Jumat, 07 Agustus 2009

UNGKAPAN JIWA KEPADA LAYLI

Layla atau layli

Segal puji bagi Allah, yang telah melimpahkan rahmad dan hidayahnya berupa kasih sayang dam cinta yang dianugerahkan pada hambanya. Dengan cinta saya memujinya. Solawat serta salam semoga terlimpahkan pada junjungan kita Nabi Muhammad bin Abdullah yang telah menebarkan cinta dan kasih sayang sehingga tercipta tatanan yang harmonis. Dengan cinta saya menjadi panutannya.

Hallo? gimana kabar kamu. Semoga Tuhan menganugerahkan kesehatan jasmani dan rohani kepadamu pada waktu kamu membaca surat ini. Karena Inspirasi ku menginginkan itu dapatkan tadi malam tepatnya pada kamis, 7 juli 2009. Dengan problematikan yang ku dapat tenang dia dan dia. Dia adalah dunia ide dan realitas. Ini merupakan usaha meninggalkan jejak. Jejak yang ditinggalakan menadai kehidupan dan kematian saya. Ibaratnya seperti hantu yang tidak dapat melakukan banyak hal tentang kehidupan. Saya tidak bisa berbuat apa-apa atas ini, lebihnya tepatnya saya seperti boneka. Kamu bisa menarik kesimpulan atas semua ini. Ini bukan ambisi untuk hidup kekal, tapi inilah strukturalisme (Derrida.)

Akan ku mulai pemahasan ini tentang dia, teman kamu, kamu sering menyebutnya mbak munk. Itu yang kutahu dari kamu. Ketika kita pernah berjumpa dengan tiga hawa dalam skenario Tuhan. Saya tidak pernah berpikir apa-apa. Ini hanya kemauan biasa. Mbak Munk yang kukenal dari temanku juga dan meman mantan pacarnya. Hingga satu dan lain hal yang menyebabkan saya dan dirinya menuai keakraban Saya tampil sebagai teman yang baik. Yang mendengarkan keluh kesan temanya. Dengan memberikan satu suntikan spirit. Himgga Munk mendapatkan semagat lagi. Seperti Munk yang saya, kamu, ci’ ong dan semuanya kenal. Munk yang ceria, murah senyum, familiar, pintar apa aja dech. Intinya segal kebaikan pantas tertuju pasanya.

Namun, persoalan kini berkembang pesat yang tidak aku duga sebelumnya. Munk ingin menjadi bagian dari diriku. Aku tersentak dan kaget. Aku berada di pintu gerbang yang tidak pernah aku masuki. Teman menyebutnya ta’aruf (menjadi bagian satu sama lain yang saling melengkapi). Sikapku frontal. Menolak keinginan yang ia maksudkan kepada saya. Tapi, dasar emang sifat alamiah hawa yang sensitif, responsif, pasif, intuitif dengan konotasi makna Yin (meninjam istilah Sachiko Murata dalam Tao Of Islam), mbak Munk meneteskan air mata yang tidak dikehendaki. Saya merasa mati kutu dengan kejadian itu. Kerena kebalikan sifat itu, yaitu aktif, analitis, idealis, dengan simbol Yang.

Maka, karena saya manusia biasa yang masih punya perasaan. Saling melengkapilah kemudia antara yin (hawa) dan yang (adam). Di dalamnya kita aling membagim idealisme kita punya. Hingga membentuk semacam utopia bernama sikap saling mengerti dan memahami. Menjadi bagian satu dengan yang lainnya. Kamu adalah saya dan saya adalah kamu. Hingga mencapai satu titik ilmak bernama broken (satu kata kesenjangan dalam hidup antara idealisme dengan harapan), yaitu semenjak saya mengenal tiga hawa di pantai putih di rindang pohon di saksikan ombak.

Maka sifat (Yang) gambaran dari sifat adam nampak, yaitu destruktif atau ketidak harmonisan tatanan dalam idelisme yang pernah kita bangun. Penyebabnya lagi-lagi idealisme. Idealisme meruntuhkan tatanan, harapan, impian, dan berujung keterputusasaan. Mungkin inilah hidup, tumbuh dan berkembang. Makna selain itu adalah kematian atau ketidakpantasan menjalani hidup (meminjam istilah Plato). Tapi, menyitir pendapat Robert Cyrcle, ketika masalah besar yang datang dapat diatasi dengan baik. Maka, masalah yang lebih kecil dari itu tidak sampai kam membunuhmu. Sampai saya menganjurkan sebuah tips jitu yang saya peroleh dari sebuah buku Bapak Dr. Mulyadi Kertanegara, dalam sebuah bukunya ”Bunga Rampai Dari Cicago” dalam satu bab tulisan yang berjudul ”Seni Menangkis Kesedihan. Orang yang berusaha dalam mengatasi kesedihannya adalah termasuk bagian dari seni. Di dalamnya ada dua cara analitis, yaitu introver dan ekstrover. Mengatasinya dari arah kedatangan. Karena masalah itu datangnya dari dua arah, dalam dan luar. Ketika masalah itu datangnya dari dalam diri kita sendiri, seperti, sedih karena saru keinginan tak tercapai dan lainnya, maka, metode yang digunakan adalah analitis introver. Berusaha memahami yang kita inginkan. Ketika masalah itu datangnya dari luar, seperti bermasakah dengan keluarga, teman, lingkungan, maka kita menggunakan analisis ekstover. Inti tulisan ini adalah mengajak pada pengenalan diri (self know). Atau bisa juga dengan rombak paradikma, yaitu kita bertendensi sebaliknya. Misalnya, ketika kita menjumpai salah satu teman kita di jalan dan ternyata dia tidak merespon kita dengan tegus sapa. Maka, kita bertanya-tanya ada apa dengan saya sehingga dia tidak menyapa saya. Ini menyebabkan kita bersedih hati. Tapi, akan tampak beda, ketika kita bertendensi sebaliknya. Apabila ada teman yang ketemu kita di jalan dan ia tidak menyapa kita. Anggap saja dia (teman) sedang punya masalah. Itulah yang bisa kulakukan saat itu. Menghiburnya dengan petuan yang saya sendiri ragu untuk bisa menjalankannya sepenuhnya. Ibaranya saya melukainya aku juaga yang harus mengobatinya. Ini mungkin yang disebut kausalitas yang baru saya pahami dengan proses untuk menjadi matang secara emosional (psikologis). Kematangan emosinal memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Dibutuhkan usaha penuh. Bukan bertendensi pada usia. Kita bisa matang secara emosional (dewasa) sebelum waktunya. Kamupun bisa!

Karena mafhum adanya saya sebagai manusia biasa yang Tuhan anugerahkan dengan akal dan nafsu. Kau menarik ke dalam dirimu. Karena kau cantik. Karena definifi yang cantik akan menarik apa saja ke dalamny dan menjadi apa saja. Tapi saya punya masalah dalam penilaian tentang cantik, yang ku abadikan dalam satu artikelku berjudul ”Tafsir Cantik” ini dia, TASFIR AYAT “CANTIK”

Tafsir merupakan usaha untuk menagkap pesan yang tersembunyi. Ini yang saya kenal dari defenisi tafsir agama teks yang pernah saya baca pada metodologi-metodologi tafsir. Hermeneutuka, Tanzih atau apapun itu. Usaha menangkap pesan itu sendiri terkadang berbeda muatan. Tergantung metode apa yang kita pakai. Karena metode mempengaruhi terhadap muatan kandungan yang ditangkap.

Tafsir ini yang menginspirasikan saya pada suatu hal yang mirip dengan tafsir, berikut pengokohannya terhadap nilai kebenarannya. Tentunya bukan tafsri teks agama yang kita pahami semula atau tafsir sastra yang kita kenal di pembahasan hermeneutika. Tetapi, tafsir yang menurut saya ibarat mencicipi makanan. Dan pengokohan terhadap pencicipan tersebut. Barulah kita paham, apa sebenarnya muatan makanan tersebut. Pahit, manis atau asin. Disitulah pesan tersebut ditangkap dan dipahami muatanna. Tapi ini hanya teorisasi. Jelasnya, ini menyatakan pentingnya pengokohan orang lain terhadap penafsiran kita. Dengan itu ,secara sendirinya memberikan legitimasi terhadap tafsir yang kita ambil. Dengan satu kaidah dalam hal kesepakatan umat tidak mungkin membuat kesepakan dalam satu hal secara bersamaan. Untuk pengokohan kita ambil suara mayoritas.

Wanita cantik. Atau ayat cantik tepatnya. Kita bisa gunakan dengan metodologi ‘semacam pendekatan ini. Tafsir ibarat mencicipi makanan. Dengan makna khas yang ditafsirkan. Cantik relative. Cantik ibarat selara tidaknya kita terhadap makanan. Kita tidak dapat memaksakan selera kita kepada orang lain. Kamu harus suka makanan ini dan itu, dengan nada mengancam. Karena ini mirip dengan naluri yang datangnya alami (nature).

Sama halnya dengan ayat cantik itu sendiri. Perempuan itu cantik menurut dia, tapi belum tentu menurut mereka. Argumen ini munkin tidak punya pengokohan, atau relative tepatnya. Ada korelasi ruang dan waktu yang terus berkembang. Sama dengan perkembangan hukum dan pemahaman tentang ayat.

Ku kenal dia perempuan cantik “ ayat cantik” kata umat, yang tidak lain suara mayoritas temanku. Ku menjadi suara minoritas. Parahnya individual. Sehingga kukenal ayat cantik sebagai perempuam biasa-biasa saja. Sama seperti yang lainnya. Tak ada yang istimewa dan menonjol darinya. Perkembangannya, kabar angin begitu kencang. Menerpa pendengaranku, yang mencoba mengabarkan bahwa ada ayat yang sangat cantik, memesona, memancarkan aura, indah menawan, yang saya tidak tahu siapa namanya. Sebagai manusia saya merasa penasaran. Aku mencari kebenaran kabar tersebut. Apakar kabar lebih nyata dari kebenaran?. Ternyata dia adalah perempuan yang ku kenal biasa- biasa saja. Perempuan yang ku pandan dari jendela tansparan. Tapi tiap kali dia lewat kala itu aku ingin memandanganginya. Ataukah dia benar-benar cantik namun saya sendiri yang tidak menyadarinya?.

Ya. Benar sekali. Tidak ada keraguan sedikitpun. Setelah kuanalisis lebih mendalam, seksama dan telit, dilihat dari banyak aspek dan pertimbangan, dia benar-benar perempuan yang cantik, yang ku kenal mula-mula sebagai perempuan biasa-biasa saja. Mungkinkah dia telah bercaya cipta seperi digambagkan Rumi sebagai feminim yang kreatif dan berdaya cipta. Ini obyektif bukan subyektif. Aku baru sadar bahwa dia adalah perempuan yang cantik setelah umat atau teman-temanku membuat pengokohan. Maka akupun menjadi suara mayoriatas dengan daya cipta yang dia pancarkan.

Fenomena penafsiran ayat “cantik” tersebut menandai bahwa ada banyak hal yang mendorong kita jauh dari kebenaran teks. Kepekaan, keterbatasan sumber pendukung, meliputi perangkat keilmuan, intelektual atau penguasaan terhadap basik keilmuan. Spider Web (jaring laba-laba) atau di kenal dengan istilah Ijtihad Jamai (kolektif) merupakan prasarat modern dalam pendekatan teks yang dilepas. Karena disana ada beberapa dikotomo ilmu berikut penguasaannya dalam memahami teks. Kemudian, dijadikan satu kesatuan pemaknaan. Menangkap makna teks yang menjadi bidikannya. Standart Ganda (Doble Mouvmen) meminjam istilahnya Fazlur Rahman, kemudian rekontruksi kembali (meminjam istilahnya Hasan Hanafi) membentuk kembali pada pemaknaan yang baru yang lebih tepat.

Maka, kita mempercayai perspektif termasuk di dalamnya menerima sesuatu yang lain untuk memperkokoh perspektif kita. Kita punya banyak gambaran dalam membidik satu hal. Dan upaya kesatuan perspektik tetap yang paling penting. Ini penting dan tidak dapat disepelekan. Seperti anekdot kaum sufi, ketika tiga orang buta menggambarkan gajah yang dirabanya. Kebutaan menandai bahwa kita hanya punya satu perspektif. Maka, kesatuan yang diambil dari perspektif tersebut adalah lebih utama.

Sama halnya dengan ayat “cantik” ditinjau dari beberapa perspektif. Pertama, ada dua unsur yang harus diperhaitikandi sini, kesepakatan umat dalam perspektif cantik itu sendiri terbagi menjadi dua: fisik dan rohani. Kedua, ada banyak penilaian dari dua bentuk cantik ini dan juga lainnya yang harus dipertimbangkan. Kemudian kesepakatan umat yang mengokohkan hasil analisa kita.

Tafsir cantik secara fisik, ini umum. Semua orang dapat menyaksikan secara nyata. Inimurni karena pembentikan alam. Semua orang tidak dapat memungkirinya. Karena tidak kasat mata. lawan dari abstrak. Ini yang saya pahami untuk pertama kalinya. Kemudian cantik secara Ruhani, yang disebut innerbeuty atau kecantikan yang datangnya dari dalam. Orang tidak dapat mennyaksikannya secara langsung. Karena ini kasat mata dan abstrak. Kecantikan ini hanya dapat diketahui melalui tindakan dalam bentuk etika dan moralitas serta kepekaan terhadap lingkungannya. Ini hanya diperoleh melalui pembelajran-pembelajaran diri.

Demikian, cantik memiliki dua dimensi ruang dan waktu, internal dan eksternal yang overlamp (tumpang tindih) dan jalin-menjalin satu satu sama lain. Pemisahan hanya membuat kabut kabur terhadap pemaknaan. Karena pemaknaan secara totalitas akan menghasilkan makna baru yang total.

Tafsir hanya ibarat mencicipi makanan. Dengan memperhatikan secara seksama makna yang tersirat dan tersurat. Maka hakekat kebenaran tersingkap. Berarti, kita mendapatkan khazanah yang tersembunyi, di balik ayat “cantik”. Carilah khazanah yang tersembunyi itu sampai ketemu, apapun itu. Semoga(*)

Tapi memang aku belum menyadarinya bahwa secara definitif kamu cantik. Sesudah munk iseng kirimkan foto kamu. Tapi saya tidak tahu apa tendensinya, sedikit yang saya tahu agar saya mengenal kamu lebih dekat. Tapi, menyadarinya seperti itu. Kamu dapat menginspirasikan sesuatu ketikan kuberpikit tentangmu. Meminjam istilah Arabi, kamu adalah feminim kreatif yang mempunyai daya cipta. Karena hanya feminmlah yang mempunyai daya cipta. Dan secara subyektik saya menunjukmu. Kamu tidak keberatankan?. Semoga!.

Akupun mulai melakukan suatu hal yang berkenaan tentangmu. Dengan satu tujuan mengenal lebih jauh tentangmu dan dapat memahamimu. Entah kamu sadar atau tidak. Itulah sedikit yang aku usahakan. Hingga terbentuklan layla dalam dunia ide ”meminjam istilah Plato” , sebuah dunia yang banyak mengimpikan seseuatu yang ideal. Sedangkan hipotesanya (dugaan sementara) menjadikan layli sebagai sebagai ide nyata (kongkrit) dari dunia ide yang tidak nyata (abstrak).

Dari daya cipya yang kamu punya hingga menarikku ke dalamnya, hingga terbentuklah sekelumit kata. Sebuah usaha untuk menghancurkan setitik suara, yang bisa saya sampaikan berupa tulisan yang merupakan arketipe dari bagian psikologi aktif yang didengungkan. Ini bagian usaha menepis kesedihanku dari dalam (introver)dengan menggunakan metode Bapak Mulyadi Kertanegara. Usaha ini merupakan bagian untuk mengurangi beban yang kutangung. Karena hanya ini yang bisa saya lakukan. Aku tidak berharap banyak dari. Tapi saya sudah berusaha jujur untuk mengakui semua itu.

salam

Andriyan azza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar